WANYAR BATIK
HP 08179442249 | PIN BB 5D5DA043

Pages

Makna Filosofi Motif Batik

BATIK Nusantara sangat kaya akan motif-motif Batik dengan ciri khasnya masing-masing. Melestarikan Batik sebagai warisan budaya Indonesia adalah hal yang sangat penting terutama batik motif kuno peninggalan leluhur kita karena di dalam motif-motif Batik tersebut mengandung makna filosofi yang tinggi. Sebagai contoh Motif Batik Sido Mukti yang mengandung makna kehidupan yang bahagia dan berkecukupan. Motif Batik Sido Mulyo mengandung makna filosofi kehidupan yang bahagia dan rejeki melimpah, dsb. Dan makna yang lebih dalam lagi jika filosofi tersebut dimaknai sebagai doa dengan harapan agar pemakainya mendapatkan berkah dari apa yang disampaikan penciptanya dalam motif-motif Batik tersebut.


Makna Filosofi dan Cerita di Balik Berbagai Motif Batik
Batik di pulau Jawa dibagi menjadi dua, yakni:
a. Batik Pedalaman, batik yang berkembang di daerah pedalaman, khususnya Yogyakarta dan Surakarta (Solo).Batik ini biasa disebut „batik keraton“ atau „batik klasik“. Motif dari batik pedalaman  adalah motif Jawa-Hindu, yakni ornamen-ornamen candi yang ada di daerah Yogyakarta dan Solo. Warna-warna yang digunakan pun warna natural seperti cokelat, putih dan biru dengan bulatan filosofi dimana kehidupan orang Jawa sarat akan filsafat kebudayaan yang sangat kental. Pemilihan motif dan warna juga tidak sembarangan karna sarat akan makna filosofi tersendiri.
b. Batik Pesisiran, batik yang berkembang di daerah pesisir di pulai Jawa, seperti Cirebon, Pekalongan dan Madura. Batik pesisiran banyak mendapat pengaruh budaya-budaya luar seperti Cina, India, dan Arab. Dalam pewarnaaannya menggunakan warna-warna yang cerah seperti merah, hijau, biru dan kuning. Motif batik terinspirasi dari apa yang dilihat, seperti gambar kupu-kupu lengkap.
RAGAM MOTIF BATIK
1. Motif Parang Parang berasal dari kata karang atau batu karang. Perengan menggambarkan sebuah garis menurun dari tinggi ke rendah secara diagonal serta memiliki kemiringan 45 derajat. Pola dasarnya adalah lilitan leter S.
Batik motif parang merupakan ragam hias larangan karena hanya raja dan kerabatnya yang diizinkan untuk memakainya. Besar kecilnya motif parang juga menyimbolkan status sosial pemakainya dalam lingkup  kerajaan.
 



Macam – macam Batik Parang: 
-Parang Gendreh  
-Parang Rusak , motif ini tercipta ketika Panembahan Senopati sedang melakukan meditasi di Pantai Selatan. Beliau terinspirasi dari ombak besar yang terus menghantam karang hingga karang tersebut rusak. Bentuk dasar leter S di ambil dari ombak samudra yang menggambarkan semangat yang tak pernah padam. Hal tersebut mengandung petuah agar tidak pernah menyerah. Jalinan S yang tidak pernah putus pada motif parang menggambarkan jalinan yang tidak pernah putus, baik dalam arti upaya memperbaiki diri, upaya memperjuangkan kesejahteraan maupun bentuk pertalian antar saudara. Motif parang rusak juga merupakan hadiah dari generasi ke generasi muda para bangsawan. Selain itu, motif ini juga menjadi simbol agar anak melanjutkan perjuangan yang telah dirintis orang leluhurnya.
- Garis lurus diagonal pada batik parang rusak melambangkan rasa hormat, keteladanan serta ketaatan pada nilai-nilai kebenaran.
- Parang rusak biasa digunakan prajurit setelah perang, untuk memberitahu raja bahwa mereka telah menang perang. 
-Parang Tuding, tuding berarti menunjuk. Motif ini memiliki makna bahwa orang yang memakai diharapkan dapat menunjukkkan hal-hal yang baik dan menimbulkan kebaikan. Biasa digunakan oleh orang tua. 
-Parang Kusumo
Parang Kusumo
berasal dari kata kusumo yang artinya kembang. Digunakan oleh kalangan keturunan Raja bila berada didalam kraton. Motif ini mengandung makna hidup harus dilandasi oleh perjuangan untuk mencari keharuman lahir dan batin. Bagi orang Jawa keharuman yang dimaksud adalah keharuman pribadinya tanpa meninggalkan norma-norma yang berlaku dan sopan santun agar dapat terhindar dari bencana lahir dan batin.
-Parang Slobog
Slobog
digunakan pada saat upacara kematian. Hal ini memiliki makna pengharapan agar arwah yang meninggal mendapatkan kemudahan dan kelancaran dalam perjalanan menghadap Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dalam menerima cobaan.
-Parang Barong, berasal dari kata barong (singa). Kata barong berarti sesuatu yang besar, dan ini tercermin pada besarnya motif ukuran pada kain. Besar ukuran parang barong diatas 20 cm dan merupakan induk dari semua motif parang. Parang barong diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai Raja dengan segala tugas kewajibannya dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil dihadapan Sang Maha Pencipta. Motif ini memiliki makna agar seorang Raja selalu hati-hati dalam bertindak, kebijaksanaan dalam gerak dan pengendalian diri dalam dinamika usaha yang terus menerus. Motif ini hanya digunakan oleh Raja pada saat ritual keagamaan dan meditasi.
-Parang Klitik, melambangkan kelemah lembutan, prilaku halus dan bijaksana. Biasanya dipakai kalangan putri istana.
  
-Parang Curigo, curigo : keris
-Parang Centung, dipakai oleh perempuan pada acara pesta. Parang centung : sudah pandai ber-rias. 
-Parang Peni



Motif Semen.

Semen berasal dari kata semi yang artinya tumbuh, sehingga diartikan “kehidupan yang semi” (kehidupan yang berkembang atau makmur).

Ornamen motif semen terdiri dari 3 bagian. Pertama adalah ornamen yang berhubungan dengan daratan, seperti tumbuh-tumbuhan atau binatang berkaki empat. Kedua  adalah ornament yang berhubungan dengan udara, seperti garuda, burung dan mega mendung. Sedangkan yang ketiga  adalah ornamen yang berhubungan dengan laut atau air, seperti ular, ikan dan katak.

Ada hubungannya dengan paham Triloka atau Tribawana. Paham tersebut adalah ajaran tentang adanya tiga dunia; dunia tengah tempat manusia hidup, dunia atas tempat para dewa dan para suci, serta dunia bawah tempat orang yang jalan hidupnya tidak benar/dipenuhi angkara murka.

Ragam motif Semen:

Semen Gurdo, digunakan untuk pesta. Makna yang terkandung yakni agar si pemakai mendapatkan berkah dan terlihat berwibawa.

Semen Romo, Motif Semen Rama (dibaca Semen Romo) sendiri seringkali dihubungkan dengan cerita Ramayana yang sarat dengan ajaran Hastha Brata atau ajaran keutamaan melalui delapan jalan. Ajaran ini adalah wejangan keutamaan dari Ramawijaya kepada Wibisana ketika dinobatkan menjadi raja Alengka. Jadi “Semen Romo” mengandung ajaran sifat-sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang raja atau pemimpin rakyat. Nasihat tersebut termaktub di dalam asta brata (delapan keutamaan bagi seorang pemimpin), yaitu:

1.     Endabrata, yaitu pemberi kemakmuran dan pelindung dunia. Dilambangkan dengan pohon hayat.

2.     Yamabrata, yaitu menghukum yang bersalah secara adil. Dilambangkan dengan awan atau meru (gunung).

3.     Suryabrata, yaitu watak matahari yang bersifat tabah. Dilambangkan dengan garuda.

4.     Sasibrata, yaitu watak rembulan yang bersifat menggembirakan dan memberi hadiah kepada yang berjasa. Dilambangkan dengan ornamen binatang.

5.     Bayubrata, yaitu watak luhur. Dilambangkan dengan ornamen burung.

6.     Dhanababrata atau kuwerabrata, yaitu watak sentosa dan memberi kesejahteraan pada bawahan. Dilambangkan dengan ornamen bintang.

7.     Pasabrata, yaitu berhati lapang tetapi berbahaya bagi yang mengabaikan. Dilambangkan dengan kapal air.

8.     Agnibrata, yaitu kesaktian untuk memberantas musuh. Dilambangkan dengan ornamen lidah api.

Semen Mentul, digunakan untuk pakaian sehari-hari. Orang yang menggunakan motif ini umumnya tidak memiliki keinginan yang pasti.

Semen Rante, rante berarti rantai yang melambangkan ikatan. Jadi motif ini memiliki arti ikatan cinta yang terus tumbuh bersemi antara kedua mempelai.

Semen Kuncoro,  digunakan kegiatan sehari-hari di kraton. Mengandung makna bahwa sang pemakai akan memancarkan kebahagiaan.

Semen Kakrasana, motif berasal dari Surakarta. Dibuat ketika Paku Buwono IX, setelah abad ke 19, menggambarkan keteguhan hati, berjiwa kumawulo (merakyat). Bisa digunakan oleh masyarakat umum. 

Semen Naga Raja, dibuat ketika Paku Buwono IV, akhir abad ke 18, sebagai lambang ketentraman dalam menjalankan pemerintahan, memberikan perlindungan kepada rakyat atas dasar cinta kasih.. Digunakan oleh abdidalem keratin setingkat bupati ke atas.

Semen Kingkin, bermakna menunjukkan suasana prihatin dalam kehidupan, dan permohonan supaya diberi jalan yang terang. Khusus untuk orang yang sudah berkeluarga, bukan lajang.

Semen Kipas, berarti memberikan kesegaran. Motif ini termasuk motif yang muda (batik gagrak anyar). Dipakai untuk siapa saja dalam suasana apa saja.

Semen Kukila, bermakna agar manusia dalam bertutur kata hendaknya tidak membuat sakit hati orang lain, seharusnya dapat menyenangkan orang lain. Dipakai untuk siapa saja dalam suasana apa saja.

Semen Sida-Raja, bermakna harapan terlaksananya cita-cita yang tinggi. Biasanya digunakan oleh Bupati keatas, atau masyarakat pada saat upacara resmi.

Semen Remeng, bermakna mengingatkan bahwa dalam kehidupan ini selalu ada dua hal yang berpasangan, misalnya ada masa senang dan masa susah, baik dan buruk, dan sebagainya. Bisa digunakan oleh masyarakat umum.

Semen Candra, dibuat ketika Paku Buwono IX, pertengahan abad ke 19, berisi petunjuk bahwa seorang yang mempunyai kedudukan tinggi harus memberikan pengayoman kepada yang berada dibawahnya, menunjukkan sikap kumawulo (merakyat) dan tidak kumawasa (sok berkuasa). Bisa digunakan oleh masyarakat umum. 

Semen Gendhong, dibuat ketika Paku Buwono IX, akhir abad ke 19, berarti menjunjung tinggi derajat keluarganya. Bisa digunakan oleh masyarakat umum.

Pola motif ini terdiri dari sembilan motif utama. Posisi pohon hayat di samping kanan-kiri atas sepanjang motif-motif garuda. Di samping kanan-kiri bawah terdapat motif binatang berkaki empat, di bawah pohon hayat terdapat motif garuda, dan di bawahnya terdapat empat pasang motif ayam. Di atas pohon hayat terdapat motif meru, kemudian di samping kanan-kiri atas terdapat motif baito, di atas meru juga terdapat motif sepasang burung dan sua pasang motif ikan. Secara keseluruhan motif pohon hayat di atasnya motif meru dikelilingi oleh motif binatang darat, air, dan udara seolah menjaga keberadaan pohon hayat.  

Motif Lereng


Motif jenis ini pada jaman dahulu hanya digunakan oleh sentono dalem (anak dari Ratu).
Sejarah motif ini diawali dari pelarian keluarga kerajaan dari Keraton Kartasura. Para keluarga raja terpaksa bersembunyi di daerah pegunungan agar terhindar dari bahaya. Mereka berada di daerah-daerah yang sulit dijangkau musuh.  Motif ini berarti juga topo broto para raja yang dilakukan di lereng-lereng pegunungan untuk mendapatkan wahyu  atau wangsit. Dalam tapa brata itulah mereka dapat melihat pemandangan gunung dan pegunungan yang berderet-deret sehingga menyerupai pereng atau lereng. Untuk itu maka motif ini dijadikan sebagai simbol kesuburan.

Motif Kawung.
Sejarah Motif Kawung.
Ada seorang pemuda dari desa yang mempunyai penampilan berwibawa serta disegani di kalangan kaumnya. Tak lama karena perilaku pemuda ini yang sangat santun dan bijak, hingga membuat namanya terdengar hingga di kalangan kerajaan Mataram. Pihak kerajaan merasa penasaran dengan kemashuran nama pemuda ini, sehingga diutuslah telik sandi untuk mengundang pemuda ini menghadap raja. Sang telik sandi pun berhasil menemukan pemuda ini. Mendengar bahwa putranya diundang oleh raja, membuat ibunda merasa terharu dan menggantungkan banyak harapan. Ibunda berpesan agar si pemuda ini bisa menjaga diri & hawa nafsu serta tidak lupa akan asal-usulnya. Untuk itulah ibunda membuatkan batik dengan motif Kawung, dengan harapan putranya bisa menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat banyak. Tak lama kemudian setelah dipanggil oleh pihak kerajaan dan diberikan beberapa pekerjaan yang selalu bisa diselesaikannya, akhirnya pemuda ini diangkat menjadi adipati Wonobodro. Pada saat diangkat sebagai adipati Wonobodro, pemuda ini mengenakan baju batik pemberian ibundanya dengan batik motif kawung.

Pola

Berpola bulatan mirip kelapa atau kadang juga dianggap sebagai buah kolang kaling yang titata rapi secarageometris. Gambar ini diintrepretasikan sebagai gambar bunga lotus dengan empat lembar daun yang merekah.

Berupa empat lingkaran atau elips mengelilingi lingkaran kecil sebagai pusat dengan susunan memanjang menurut garis diagonal miring ke kiri atau kanan. Melambangkan 4 arah mata angin yang berporos pada pusat kekuatan, yakni timur (matahari terbit: lambang sumber kehidupan), utara (gunung: lambang tempat tinggal para dewa, tempat roh/kematian), barat (matahari terbenam : turunnya keberuntungan) selatan (zenit:puncak segalanya).

Dalam hal ini raja sebagai pusat yang dikelilingi rakyatnya. Kerajaan merupakan pusat ilmu, seni budaya, agama, pemerintahan, dan perekonomian. Rakyat harus patuh pada pusat, namun raja juga senantiasa melindungi rakyatnya. Kawung juga melambangkan kesederhanaan dari seorang raja yang senantiasa mengutamakan kesejahteraan rakyatnya. Batik yogyakarta motif kawung juga berarti sebagai simbol keadilan dan kesejahteraan.

Macam motif kawung

Kawung Picis adalah motif kawung yang tersusun oleh bentuk bulatan yang kecil. Picis adalah mata uang senilai sepuluh senyang bentuknya kecil.

Kawung Beton adalah motif-motif kawung yang tersusun oleh bentuk yang lebih besar daripada kawung Picis.


Truntum
Truntum

Truntum
Truntum berasal dari kata nuntun (menuntun) Motif truntum memiliki makna cinta yang bersemi kembali. Menurut cerita, motif ini tercipta sekitar tahun 1749-1788 M ketika Ratu Kencono atau Ratu Berok (Permaisuridari Paku Buwono III) diabaikan oleh suaminya karna sibuk memperhatikan selir barunya. Kemudian sang permaisuri  memilih untuk mendekatkan diri pada Sang Pemberi Hidup Hidup pada suatu malam. Ketika memandang langit yang cerah dan bertabur bintang, beliau mendapat inspirasi. Untuk mengisi kekosongan, beliau mulai membuat karya batik dengan motif truntum yang berbentuk seperti bintang. Selang berapa lama kemudian, sang raja menenmukan permaisuri sedang membatik sebuah kain yang indah. Hari demi hari sang raja memperhatikan permaisuri dan kain indah yang sedang dibuatnya. Kemudian muncullah kembali rasa sayang sang raja pada permaisuri.Selain itu, motif truntum juga melambangkan kesetian. Motif ini biasa digunakan ketika hari pernikahan oleh orang tua dari pengantin. Harapannya adalah agar cinta kasih yang tumaruntum ini akan menghinggapi kedua mempelai.

Motif Batik Gurdo
Gurdo
Gurdo berasal dari kata garudo. Motif batik gurdo ini  tidak lepas dari kepercayaan masa lalu. Menurut Kepercayaan Hindu Garudo merupakan tunggangan Batara Wisnu yang dikenal sebagai Dewa Matahari. Bentuk motif gurdo ini terdiri dari dua buah sayap (lar) dan di tengahnya terdapat badan dan ekor. Oleh masyarakat Jawa, garuda selain sebagai simbol kehidupan juga sebagai simbol kejantanan. Motif jenis ini merupakan motif larangan (motif mahal). Motif jenis ini hanya digunakan oleh Raja, sehingga diharapkan sorang Raja dapat menerangi kehidupan dunia.
Motif gurdo merupakan motif yang cukup populer bagi masyarakat Jawa, terutama karena motif ini diaplikasikan oleh keraton mataram sebagai lambang kerajaan Mataram.
 
Motif Tumpal,  
Tumpal
adalah motif yang memiliki bentuk dasar segitiga sama kaki. Motif ini digunakan sebagai pinggiran kain selendang atau jarik.
Motif Ceplokan

ceplokan
Pada dasarnya, ceplok merupakan kategori ragam hias berdasarkan pengulangan bentuk geometri, seperti segi empat, empat persegi panjang, bulat telur, atau pun bintang. Ada banyak varian lain dari motif ceplok, misalnya ceplok sriwedari dan ceplok keci. Batik truntum juga masuk kategori motif ceplok. Selain itu, motif ceplok juga sering dipadupadankan dengan berbagai bentuk motif lainnya untuk mendapat corak dan motif batik yang lebih indah.

Motif Batik Meru
Meru
Kata meru berasal dari Gunung Mahameru. Gunung ini dianggap sebagai tempat tinggal atau singgasana bagi Tri Murti, yaitu Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Brahma, dan Sang Hyang Siwa. Tri Murti ini dilambangkan sebagai sumber dari segala kehidupan, sumber kemakmuran, dan segala sumber kebahagiaan hidup di dunia. Oleh karena itu, meru digunakan sebagai motif batik agar si pemakai selalu mendapatkan kemakmuran dan kebahagiaan.
Motif Batik Tambal
Tambal
Ada kepercayaan bahwa bila orang sakit menggunakan kain ini sebagai selimut, maka ia akan cepat sembuh. Tambal artinya menambah semangat hari. Dengan semangat baru itu diharapkan harapan baru akan muncul sehingga kesembuhan mudah didapat. Selain itu, dengan kehadiran para penjenguk, diharapkan si sakit tidak merasa ditinggalkan dan memiliki banyak saudara sehingga keinginan untuk sembuh semakin besar.
Motif Batik Ciptoning
Ciptoning
Motif ciptoning ini biasanya dipakai oleh orang yang dituakan maupun pemimpin. Dengan memakai motif ini, pemakainya diharapkan menjadi orang bijak dan mampu memberi petunjuk jalan yang benar pada orang lain yang dipimpinnya. Makna filosofis di balik motif ini sebenarnya bukan hanya untuk pemimpin, tetapi juga untuk setiap orang agar mampu memimpin (menempatkan) dirinya sendiri di tengah masyarakatnya.

Motif Batik Sido Luhur
Sido Luhur
Motif Batik Sido Luhur mengandung makna keluhuran. Bagi orang Jawa, hidup memang bertujuan untuk mencari keluhuran materi dan non materi. Keluhuran materi artinya segala kebutuhan ragawi bisa tercukupi dengan bekerja keras sesuai dengan jabatan, pangkat, derajat, maupun profesinya. Keluhuran materi sebaiknya diperoleh dengan cara yang benar, halal, dan sah tanpa melakukan kecurangan atau perbuatan yang tercela, seperti korupsi, merampok, mencuri, dan sebagainya. Sebab walaupun merasa cukup atau bahkan berlebihan secara materi, jika harta materi itu diperoleh secara tidak benar, keluhuran materi belum bisa tercapai. Keluhuran materi akan lebih bermakna lagi bila harta yang dimiliki itu bermanfaat bagi orang lain dan bisa diberikan dalam berbagai bentuk, seperti sumbangan, donasi, hibah, dan sebagainya. Artinya, sejak dulu masyarakat Indonesia sudah terbiasa saling menolong. Sementara keluhuran budi, ucapan, dan tindakan adalah bentuk keluhuran nonmateri. Orang yang bisa dipercaya oleh orang lain atau perkataannya sangat bermanfaat kepada orang lain tentu akan lebih baik daripada orang yang perkataannya tidak bisa dipegang dan tidak dipercaya orang lain. Orang yang bisa dipercaya oleh orang lain adalah suatu bentuk keluhuran nonmateri. Orang Jawa sangat berharap hidupnya kelak dapat mencapai hidup yang penuh dengan nilai keluhuran. Semua ini tidak lepas dari falsafah hidup orang Jawa, bahwa orang tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarga, kerabat, masyarakat, bahkan lingkungan, dan kepada Tuhan yang menciptakannya.

Motif Batik Sido Drajad
Sido Drajad
Batik sido drajad dipakai oleh besan ketika upacara pernikahan. Cara pemakaian batiknya juga memiliki nilai pendidikan tersendiri. Bagi anak-anak, batik dipakai dengan cara sabuk wolo. Pemakaian jenis ini memungkinkan anak-anak untuk bergerak bebas. Secara filosofi, pemakaian sabuk wolo diartikan bebas moral, sesuai dengan jiwa anak-anak yang masih bebas, belum dewasa, dan belum memiliki tanggung jawab moral di dalam masyarakat. Ketika beranjak remaja, seseorang tidak lagi mengenakan batik dengan cara sabuk wolo melainkan dengan jarit. Panjang jarit yang dipakai memiliki arti tersendiri. Semakin panjang jarit, semakin tinggi derajat seseorang dalam masyarakat, dan semakin pendek jarit, semakin rendah pula strata sosial orang tersebut dalam masyarakat. Bagi orang dewasa, pemakaian batik memiliki pakem yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki, wiru diletakkan di sebelah kiri. Sedangkan pada perempuan, wiru diletakkan di sebelah kanan, yang berarti nengeni, seorang putri tidak boleh melanggar kehendak suami.

Motif Batik Sido Mukti
Sido Mukti
Motif Batik Sido Mukti mengandung makna kemakmuran. Bagi orang Jawa, hidup yang didambakan selain keluhuran budi, ucapan, dan tindakan, tentu adalah pencapaian mukti atau kemakmuran, baik di dunia maupun di akhirat. Setiap orang pasti mencari kemakmuran dan ketenteraman lahir dan batin. Kemakmuran dan ketenteraman itu tidak akan tercapai tanpa usaha dan kerja keras, keluhuran budi, ucapan, dan tindakan. Setiap orang harus bisa mengendalikan hawa nafsu, mengurangi kesenangan menggunjing tetangga, berbuat baik tanpa merugikan orang lain, dan sebagainya agar dirinya merasa makmur lahir batin. Kehidupan untuk mencapai kemakmuran lahir dan batin itulah yang juga menjadi salah satu dambaan masyarakat.

Motif Batik Cuwiri
Cuwiri

Batik motif cuwiri biasa digunakan pada saat acara mitoni, sebuah tradisi memperingati tujuh bulan usia bayi. Cuwiri artinya kecil-kecil. Diharapkan pemakainya terlihat pantas dan dihormati oleh masyarakat. Sejak kecil, manusia di Jawa sudah memiliki banyak aturan sesuai dengan falsafah hidupnya dengan tujuan mendapatkan kemakmuran dan kebaikan.

Motif Batik Burung Huk (Burung Merak)
Burung Huk
Bentuk dasar ragam hias motif burung huk adalah seekor anak burung yang baru menetas, menggeleparkan kedua sayapnya yang masih lemah, berusaha lepas dari cangkang telurnya, serta separuh badan dan kedua kakinya masih berada di dalam cangkang. Motif burung huk juga sering disebut dengan motif burung merak. Ide dasarnya adalah pandangan hidup tentang kemana jiwa manusia sesudah mati. Dan gambaran tersebut disimpulkan bahwa kematian hanyalah kerusakan raga, sedangkan jiwanya tetap hidup menemui Sang Pencipta. Keunikan motif ini adalah ia selalu hadir bersama dengan motif lainnya, misalnya ceplokan sebagai selingan motif parang, dalam bentuk yang berbaur dengan motif lainnya. 

Motif Batik Mega Mendung
Mega Mendung
Pada bentuk mega mendung, bisa kita lihat garis lengkung dari bentuk garis lengkung yang paling dalam (mengecil) kemudian melebar keluar (membesar) yang menunjukkan gerak yang teratur harmonis. Bisa dikatakan bahwa garis lengkung yang beraturan ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik dan turun). Hal itu kemudian berkembang keluar untuk mencari jati diri (belajar atau menjalani kehidupan sosial agama). Pada akhirnya, membawa dirinya memasuki dunia baru menuju ke dalam penyatuan diri setelah melalui pasang surut (naik dan turun) dan pada akhirnya kembali ke asalnya (sunnatullah). Dengan demikian, kita bisa lihat bentuk mega mendung selalu terbentuk dari lengkungan kecil yang bergerak membesar keluar dan pada akhirnya harus kembali lagi menjadi putaran kecil, tetapi tidak boleh terputus. Terlepas dari makna filosofis bahwa mega mendung melambangkan kehidupan manusia secara utuh sehingga bentuknya harus menyatu, sisi produksi memang mengharuskan bentuk garis lengkung mega mendung bertemu pada satu titik lengkung berikutnya agar pewarnaan bisa lebih mudah.

Motif batik Sekar Jagad

Sekar jagad
Sekar Jagad lebih kompleks dan berwarna-warni. Batik ini cocok digunakan oleh wanita yang menyukai fashion dan sentuhan colourful dalam baju yang digunakannya. Motif dasar dari batik Sekar Jagad adalah ornamen motif ini berupa aneka bunga dan tanaman yang tumbuh di seluruh dunia, tersusun di dalam bentuk-bentuk elips.

Seperti warna warninya yang ceria, batik ini memiliki filosofi kebahagiaan dan kegembiraan. Bila Anda akan melangsungkan acara syukuran atau akan diwisuda, batik motif Sekar Jagad cocok dipakai untuk mengekspresikan kebahagiaan.






Parikesit
Parikesit

Mengandung makna bahwa untuk mencari keutamaan harus dilandasi dengan usaha keras dan gesit. Tentu usaha keras dan gesit itu tanpa harus meninggalkan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Bukan sebaliknya usaha keras dan gesit dengan cara kotor, pasti akan sangat dihindari. Sebab dampak yang ditimbulkan akan sangat berat dan yang jelas pasti akan menjadi bumerang bagi diri-sendiri. Dengan usaha keras dan gesit itulah diharapkan bisa membangun keluarga inti yang sejahtera lahir dan batin.

Sumber dari http://www.museumbatik.com dan google
 

Office

Komplek Pondok Pesantren Roudlotul Fatihah, Dusun Tambalan, Pleret, Bantul, Yogyakarta

Hp: 08179442249

Work Shop

Girirejo, Banyusumurup, Imogiri, Bantul, Yogyakarta

Hp: 08179442249

Product Archive